2016 is a transition year for AIPJ. For information on 2011-2015 programs, please click 'Completed Programs' button

Pendampingan Pendataan SLB di Langkat

Tim Pusat Kajian Perlindungan Anak ( PUSKAPA) Universitas Indonesia telah melakukan kunjungan ke Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Langkat, Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 15 – 17 Oktober 2014 bertujuan untuk melakukan pendampingan pendataan kebutuhan pelayanan terpadu bagi siswa SDLB N 057704, Langkat. Dalam kunjungan tersebutTim PUSKAPA juga melakukan pertemuan dengan orang tua wali murid untuk melakukan sosialisasi tentang pentingknya hak Identitas Hukum bagi anak-anak serta program pelayanan terpadu yang akan dilaksanakan di SDLB.

Tercatat ada 140 siswa terdaftar di SDLB Negeri 057704 Langkat, namun hanya sekitar 70 siswa yang aktif datang setiap hari ke sekolah guna mengikuti aktivitas belajar mengajar. Hal ini dikarenakan jarak tempat tinggal mereka dengan sekolahan cukup jauh ditambah lagi dengan fasilitas transportasi yang tidak ramah terhadap penyandang disabilitas. Masih cukup banyak siswa SDLB Negeri Langkat yang tidak diketahui apakah mereka memiliki akta kelahiran atau tidak. Data tentang kepemilikan akta kelahiran siswa diperoleh sekolah pada saat proses pendaftaran siswa baru, sementara sisanya didapat saat para orang tua mendaftar mengikuti YANDU. Berdasarkan keterangan para guru, sebagian orang tua siswa tidak mau mengurus akta kelahiran anak mereka dikarenakan para orang tua merasa akta kelahiran tidak diperlukan terutama untuk kepentingan sekolah;banyak siswa SDLB yang tidak melanjutkan sekolah dan memilih tetap bersekolah di SDLB Negeri Langkat. Hanya ada sedikit siswa yang melanjutkan pendidikan ke tingkat lanjut dan kebanyakan adalah siswa dengan hambatan pendengaran dan mereka biasanya akan mengurus akta kelahiran untuk mendaftar ke SMPLB di Kota Binjai.

Terkait penyelenggaraan YANDU yang rencananya akan diselenggarakan di SDLB , maka pihak sekolah sudah melakukan sosialisasi kepada para orang tua siswa sebanyak dua kali. Selain itu, sosialisai serupa juga dilakukan tim Puskapa saat berada di SDLB yang dihadiri oleh 17 orang tua siswa yang sedang menunggu anak mereka pulang. Dari pertemuan sosialisasi tersebut diketahui terdapat 7 pasangan yang anaknya tidak memiliki akta kelahiran meskipun orang tuannya memiliki buku nikah. Hingga saat ini data yang didapat menunjukan terdapat 34 orang siswa, dimana 28 siswa berasal dari SDLB dan 6 siswa dari non SDLB, yang membutuhkan layanan penerbitan akta kelahiran dan orang tua mereka sudah memiliki buku nikah