2016 is a transition year for AIPJ. For information on 2011-2015 programs, please click 'Completed Programs' button

Tim AIPJ Mengunjungi Museum Lapawawoi Warampone

Pada Hari Selasa, tanggal 2 April 2013 pukul 11.30 Wita, Bapak Drs. H. Wahyu Widiyana, M.A dan Ibu Hilda (AIPJ) dalam rangka mengumpulkan data di beberapa instansi yang berkaitan dengan tujuan pelayanan masyarakat dibidang hukum dan keadilan, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi museum Lapawawoi yang terletak di tengah-tengah kota Watampone, kedatangan beliau disambut dengan persembahan tari PADDUPPA dari gadis-gadis yang berpakaian adat (baju bodo) diiringi gendang dan seruling. Wajah Pak Wahyu nampak terharu begitu disambut dengan ramah.

 

 

 

Rombongan terdiri dari Ibu Hilda (AIPJ), Ketua Pengadilan Agama Watampone (Drs. Muh. Husain Shaleh, SH), Wakil Ketua Pengadilan Agama Watampone (Drs. Alimuddin Rahim, S.H, M.H), Pansek PA Watampone, dan Pansek PA Maros serta pembatu gubernur Wilayah. V dan seluruh karyawan Pengadilan Agama Watampone. Beliau disambut dengan gembira oleh penanggung jawab Museum saudara Andi Bone sekaligus menjelaskan sejarah kerajaan Bone dan isi dari Museum tersebut.

Dalam Museum Lapawawoi sendiri terdapat silsilah keturunan raja-raja sbelum masuknya agama Islam sampai sesudah masuknya Agama Islam dan adapun raja-raja Bone terdiri dari :

  1. Manurunge Ri Matajang
  2. La Ummase
  3. Petta Karempalua
  4. I Benriwa Gau
  5. la Tenri Sukki
  6. La Uliyo Bote'e
  7. La Tenri Rawe Bongkange
  8. La Inca.
  9. La Pattawe
  10. We Tenripatuppu Maddusila
  11. La Tenriruwa
  12. La Tenripale Toakkapeang
  13. La Maddaremmeng
  14. La Tenriaji Tosenrima

Dan Seterusnya sampai 33 raja Bone

Adapun Aru Palakka di gelar petta Malampe'e Gemme'na Arumpone ke 15, di Museum tersimpan beberpa peralatan kerajaan baik payung, peralatan perang, stempel kerajaan, pakaian adat, peralatan/perabotan untuk makan raja-raja dengan keluarganya, keris bertatahkan emas, alat penyembahan dewata (sebelum datangnya Islam) sampai Songkok berbentuk Sorban yang terdiri dari dua macam. Songkok tersebut pernah dipakai oleh Qadhi bernama Sayyed Idrus Al Hadramautpada pemerintahan Arumpone ke 13 La Maddaremmeng pada abad ke 19.

Pada kamar lain terdapat songkok yang terbuat dari lidi pohon lontar yang banyak tumbuh di Kabupaten Bone, untuk macam songkok yang disebut juga songkok To Bone tersebut pada zaman kerajaan dahulu tergambar derajat/kasta orang yang memakainya, apabila tatakan emasnya berukuran 1 cm dari atas berarti dipakai oleh raja atau keturunan kerajaan dan apabila tatakan emasnya semakin sedikit maka dipakai oleh tingkat kebangsawanan dan jika tidak terdapat tatakan emas maka dipakai oleh masyarakat biasa, bahkan dahulu masih dipakai istilah "ata" yang berarti budak yang dipersembahkan buat raja dalam adat perkawinan raja-raja akan tetapi setelah masuknya agama Islam hal tersebut sudah tiadakan oleh raja-raja yang memeluk agama Islam. dan rakyat Bone sendiri termasuk pemeluk agama Islam yang taat terbukti dengan mayoritas masyarkat Bone memeluk agama Islam.

Dalam kedatangannya, Pak Wahyu beserta rombongan nampak senang dan bahkan merasa kaget karena semua penyambutan di Watampone seolah-olah sudah tertata dengan rapi walaupun dilakukan secara spontanitas. Demikian sekilas singkat kunjungan ke Museum Lapawawoi watampone tentunya banyak kenangan dan pengalaman meskipun kedatangan beliau hanay tiga hari.

Sumber : http://www.pa-watampone.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=145:berita&catid=37:seputar-pa-watampone