
Mempraktekkan teknik wawancara dalam pelatihan jurnalistik Solider.
Mengadvokasi Isu Disabilitas Melalui Pelatihan Jurnalistik
Tujuh belas aktivis dari 10 provinsi di Indonesia berpartisipasi dalam pelatihan jurnalistik untuk mempertajam kemampuan menulis dan advokasi sebagai jurnalis media online bagi Solider (www.solider.or.id) pada 4-8 September 2017 di Yogyakarta. Diselenggarakan oleh SIGAB (Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel), dengan dukungan AIPJ2, para peserta belajar menulis laporan komprehensif, menulis artikel opini, serta konsep jurnalisme investigatif. Dalam dua hari pertama, peserta pelatihan menerima prinsip dasar advokasi dan isu disabilitas yang lebih luas, yang akan menjadi pijakan dalam setiap kategori penulisan.
Solider berawal sebagai format media cetak SIGAB pada 2005. Dengan dukungan AIPJ Fase Pertama, Solider kemudian berkembang dalam format online yang lebih dinamis sejak 2013. Sejak awal 2013, tim Solider berkolaborasi dengan AIPJ, menyelenggarakan seri pelatihan jurnalis dalam rangka meningkatkan sumber daya kontributor, melengkapi mereka dengan keterampilan jurnalistik, sudut pandang disabilitas, dan langkah-langkah meningkatkan akses keadilan. Hingga kini, ada 46 anggota kontributor dengan tingkat keaktifan yang beragam.
"Solider adalah media yang berupaya mengubah perspektif masyarakat tentang disabilitas," tutur Ismail, salah satu staf SIGAB yang aktif dalam pengembangan Solider. "Karena itu, setiap peserta perlu memahami isu advokasi dan disabilitas, mengubah paradigma, dan mulai memandang isu-isu disabilitas dari sisi hak asasi manusia dan pembangunan inklusif. Ini adalah topik penting di awal pelatihan, sebelum peserta belajar tentang hal-hal teknis," tambahnya.
Dengan pemahaman yang kuat tentang masalah disabilitas, SIGAB berharap agar tulisan-tulisan yang berasal dari jurnalis baru ini jauh dari stigma yang sering muncul dalam liputan berita yang ditulis oleh wartawan yang tidak mengerti prinsip dasar isu disabilitas.
Pada tiga hari terakhir, para peserta belajar tentang dasar-dasar jurnalistik. Bambang Muryanto dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dan kontributor The Jakarta Post berbicara tentang teknik penulisan, pelaporan, wawancara, penulisan berita, dan etika jurnalisme. Di akhir sesi, peserta mempraktikkan teori dan melakukan wawancara pura-pura dan menulis berita. Artikel tersebut kemudian dibahas bersama dan Bambang melakukan beberapa evaluasi penulisan sepanjang sesi.
"Sekarang setelah saya memiliki pengetahuan untuk menulis dan memahami advokasi lebih dalam, saya lebih percaya diri dalam mencari berita dan artikel tentang masalah disabilitas di NTT," kata Javas, peserta dari Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Usai pelatihan, peserta bergabung dengan grup tertutup di Facebook yaitu 'Meja Redaksi Solider' dan berbagi tulisan dan pengalaman mereka, yaitu staf SIGAB dan kontributor Solider dari pelatihan sebelumnya.
Tujuh belas jurnalis baru ini diharapkan dapat membawa gagasan baru ke Solider dan terus mendidik masyarakat tentang masalah disabilitas, yang pada akhirnya akan membawa perubahan positif dalam masyarakat terutama penerapan inklusivitas dalam berbagai aspek.