2016 is a transition year for AIPJ. For information on 2011-2015 programs, please click 'Completed Programs' button

Anak Muda Penebar Narasi Damai

{caption_in}

Andrian Habibi masih terkenang dengan kantong asoy di masa kecilnya di Deli Serdang. Setiap hari raya agama apapun, Andrian dan teman-teman akan berkeliling membawa kantung plastik. Selain mengucapkan selamat kepada warga yang merayakan dan mencicipi berbagai hidangan, mereka juga sibuk mengumpulkan buah tangan dalam plastik. 

“Setelah Reformasi di akhir 90an, kebiasaan ini pelan-pelan menghilang dari kampung kami,” ujar Andrian, yang kini aktif di sebuah perhimpunan hak asasi manusia di Jakarta. Cerita Jihan Avie tentang Desa Kutuk di Kudus dan Vili Indri tentang Dusun Kemiri di Temanggung, Jawa Tengah, lain lagi.  Merawat pluralisme dengan berbagai pemeluk ragam agama dan penghayat kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari bukan sesuatu yang asing bagi mereka, termasuk di luar wilayah desa. Ketika Vili berada di Jakarta, misalnya, seorang tetangga bikhu menyempatkan diri untuk menengok dan memastikan kondisinya. 

Andrian, Jihan, dan Vili, beserta 29 anak-anak muda dari berbagai wilayah Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, bercerita tentang pengalaman mereka dalam sesi diskusi Kemah Jurnalisme Damai yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation dan Qureta, dengan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice 2 di Jakarta, 10 – 12 November 2017. Sebagai syarat terpilih menjadi peserta  Kemah Jurnalisme Damai, setiap calon peserta wajib mengirim contoh tulisan seputar agama dan toleransi. 

Kemah Jurnalisme Damai berlangsung selama tiga hari dengan menggabungkan prinsip-prinsip jurnalisme, pemahaman kekerasan ekstremisme di masing-masing daerah. Kegiatan kemah juga mendorong ide-ide anak muda untuk menangkal bibit radikalisme dengan menyebarluaskan narasi damai secara kreatif.  

Temuan survei nasional Wahid Foundation pada 2016 dengan 1520 responden menunjukkan sekitar 600.000 umat Islam di Indonesia mengaku pernah terlibat aksi radikalisme dan sekitar 7,7 persen mengaku bersedia menjalankan aksi radikalisme jika memiliki kesempatan (jumlah ini mendekati sekitar 11 juta penduduk jika diterapkan dengan populasi penduduk Indonesia). 

Tingginya jumlah temuan ini, menurut Senior Officer Media and Campaign, Khoirul Anam, menjadi perhatian khusus Wahid Foundation untuk menjalankan berbagai kegiatan untuk membangun generasi muda penebar narasi damai di Indonesia. 

“Semangat yang dibangun dalam kegiatan ini berangkat dari rendahnya literasi masyarakat Indonesia. Hal ini membuat mereka sulit menyaring informasi dan memahami berbagai permasalahan,” ujar Luthfie Assyaukanie, pendiri Qureta sekaligus fasilitator utama Kemah Jurnalisme Damai. 

Maraknya pesan-pesan intoleran dalam jejaring komunikasi digital menjadikan remaja sebagai kelompok rentan yang mudah terpengaruh. Lewat prinsip menulis jurnalisti serta penghayatan nilai-nilai toleransi, para peserta memperoleh bekal untuk berperan sebagai agen penebar narasi damai di masing-masing wilayah. Lebih lanjut, peran aktif mereka kelak akan membantu upaya menangkal konten hoax dan radikal di kalangan remaja. 

Hal yang sama mendorong Ariyanti S.Dewi (Ari), peneliti kelautan dan perikanan, yang juga alumni Australian Awards pada 2013 untuk berpartisipasi. Ari sering merasa kurang nyaman dengan komentar-komentar ‘panas’ yang berseliweran di sosial media karena perbedaan pandangan politik. 

“Yang mengherankan buat saya, sebagian dari mereka pernah sekolah di luar negeri. Ibarat kata sudah pernah merasakan menjadi ‘minoritas’ di negara orang. Pengalaman saya di Universitas Queensland di Australia malah membuat saya berpikir apakah saya sendiri bisa bersikap sangat toleran terhadap minoritas. Profesor dan rekan-rekan sejawat saya sangat perhatian hingga menyediakan ruang sholat khusus bagi saya di laboratorium (padahal sudah ada mushola juga di kampus). Hal-hal kecil seperti ini membekas bagi saya dan sejak saat itu, mempengaruhi interaksi saya dengan kelompok lain,” ujar Ari. 

Namun Ari sering merasa tidak percaya diri untuk membalas komentar-komentar sinis tersebut. “Semoga dengan ikut pelatihan ini, saya akan lebih berani beropini. Yang pasti harus siap menjadi target bully di sosial media,” tambahnya. 

Usai pelatihan, setiap peserta, sesuai wilayah masing-masing, akan kembali berdiskusi dan mengajukan proposal diseminasi narasi damai untuk persetujuan Wahid Foundation. Tindak lanjut kegiatan akan berlangsung sepanjang 2018. “Kami juga siap membantu setiap wilayah agar mendapat dukungan langsung dari pihak pemangku kepentingan di masing-masing daerah,” ujar Anam.