2016 is a transition year for AIPJ. For information on 2011-2015 programs, please click 'Completed Programs' button

Liputan Investigatif Mendukung Gerakan Antikorupsi – Menilik Peran Perempuan

Setiap anggota masyarakat memiliki andil dalam menyokong gerakan antikorupsi.  TEMPO Institute bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Dewan Pers menyelenggarakan diskusi di Jakarta pada 12 Juli 2017, untuk mengkaji bagaimana lewat jurnalistik investigasi, media beserta lembaga/komunitas sipil bisa berkontribusi mendorong gerakan antikorupsi. 

Hadir sebagai salah satu pembicara dalam sesi diskusi ini adalah Husaimah Husain (Emma) mewakili gerakan Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK) di Makassar. Juga turut hadir sebagai pembicara dalam sesi adalah Laode Muhammad Syarif (Wakil Ketua KPK), Iman Wahyudi (anggota Dewan Pers), Agus Sunaryanto (peneliti di Indonesia Corruption Watch) dan Setri Yasa (Redaktur Eksekutif Koran Tempo). 

“Gerakan SPAK ini menarik. Kita tahu bahwa perempuan dari berbagai sudut mengalami dampak dari korupsi namun kita jarang mendengar perempuan bercerita pengalaman mereka di muka publik,” ujar Mardiyah Chamim, Direktur TEMPO Institute dalam pembukaan sesi dialog. 

Cerita-cerita yang bergulir dari banyak anggota SPAK, menurut Emma, adalah pergulatan batin perempuan yang menyadari bahwa selama ini banyak ruang-ruang yang berpotensi mendorong praktek korupsi dalam kehidupan sehari-hari. “Awalnya ketika mereka bergabung dalam pelatihan, mereka bangga dengan status sebagai agen SPAK. Namun seiring dengan waktu pelatihan, mereka justru tersadar akan beban berat yang ada di depan, karena menyangkut pilihan sehari-hari.” Emma menceritakan bagaimana seorang ibu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai kontraktor setelah bergabung menjadi agen SPAK. 

Lebih lanjut lagi, kehadiran perempuan sebagai agen SPAK diharapkan bisa mendorong nilai-nilai kejujuran sebagai bagian dari karakter keluarga. Temuan dari riset KPK (2012-2013) di kota Solo dan Yogyakarta mengindikasikan hanya sekitar empat persen dari orang tua mendidik anak-anak mereka tentang nilai kejujuran dalam bersikap dan berinteraksi sehari-hari. 

Khusus untuk jurnalis, Emma menekankan perlunya melakukan liputan seputar upaya pencegahan korupsi termasuk pendidikan dan peran keluarga.  Cerita-cerita perubahan yang dituturkan oleh agen SPAK, menurut Emma, mencerminkan keberhasilan program pencegahan korupsi. Namun sayangnya, media lebih banyak  meliput persoalan kasus korupsi dan tindakan hukum. Hal yang sama juga dikemukakan oleh sejumlah pembicara lainnya. 

“Jurnalisme harus membawa kepastian di tengah ketidakpastian. Yang saat ini terjadi adalah masyarakat berada di tengah belantara informasi.  Hasil liputan investigasi seharusnya mengungkapkan, menyajikan informasi yang jelas, tidak menyisakan pertanyaan serta memberi manfaat bagi kepentingan publik,” tutur Iman Wahyudi.